Ikuti kami
Suara ISNU
#BerdayaBerdampak

Ketika Nilai Hidup Lebih Utama dari Nilai Angka
(Refleksi Pendidikan Pesantren)
Fahrul Bagenda

Dalam hiruk pikuk dunia pendidikan modern, angka sering kali menjadi penentu segalanya. Nilai rapor, skor ujian, hingga rangking kelas dianggap sebagai barometer keberhasilan seorang murid. Seakan-akan angka-angka itulah yang menentukan masa depan seseorang, dan siapa yang tertinggal di belakang deretan angka tersebut dianggap gagal. Padahal, dalam kehidupan nyata, kecerdasan manusia tidak selalu bisa diukur dengan kertas ujian. Ada nilai-nilai kehidupan, kepekaan nurani, hingga ketangguhan menghadapi kenyataan yang jauh lebih menentukan. Di titik inilah, pesantren hadir dengan tradisi pendidikannya yang berbeda, yang menempatkan nilai hidup lebih utama dari sekadar nilai angka.

       Pesantren sejak dulu tidak pernah menjadikan angka sebagai tujuan akhir. Para santri tidak dikejar untuk mendapat angka sempurna di ujian, melainkan dituntun untuk memahami makna ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan. Belajar di pesantren bukan hanya tentang menguasai teks kitab, tetapi juga tentang melatih kesabaran, menumbuhkan rasa hormat, membiasakan hidup sederhana, dan merawat keikhlasan. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi, sehingga pesantren tidak hanya mencetak orang pintar, melainkan juga melahirkan manusia berkarakter.

       Jika kita melihat lebih dekat, pendidikan pesantren sesungguhnya mengajarkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak. Seorang santri boleh saja belum hafal satu kitab secara menyeluruh, tetapi jika ia terbiasa menjaga lisan, menolong sesama, serta hidup dalam kesederhanaan, itu sudah menjadi capaian yang sangat berarti. Di sini, ukuran keberhasilan bukanlah angka di atas kertas, melainkan seberapa dalam ilmu itu menumbuhkan keluhuran budi. Pesantren, dengan segala kesunyiannya, menanamkan kesadaran bahwa ilmu tanpa akhlak hanyalah hiasan kosong.

       Bandingkan dengan arus pendidikan formal yang begitu terikat pada standar angka. Anak-anak dipaksa mengejar nilai ujian nasional, raport, atau sertifikat prestasi. Mereka dilatih menjawab soal, tetapi sering kali lupa bagaimana menjawab tantangan kehidupan. Ketika angka ditempatkan di atas segalanya, maka yang terjadi adalah lahirnya generasi yang pandai menghitung, tetapi kering dalam memahami arti hidup. Di sinilah pesantren menawarkan perspektif yang berbeda: bahwa pendidikan seharusnya menghidupkan manusia, bukan sekadar memproduksi lulusan dengan gelar panjang dan nilai tinggi.

       Salah satu kekuatan pesantren adalah suasana hidup bersama yang menyatu dalam keseharian. Santri tidak hanya belajar dari guru atau kiai di ruang kelas, tetapi juga belajar dari interaksi sehari-hari dengan teman, kakak kelas, dan lingkungan sekitar. Mereka belajar bagaimana mengatur waktu, bagaimana menahan diri, bagaimana bersabar ketika menghadapi kesulitan, hingga bagaimana menghormati orang lain. Semua pengalaman itu menjadi pelajaran yang tak mungkin diperoleh dari soal pilihan ganda atau ulangan harian. Inilah pendidikan yang membentuk jiwa, bukan hanya otak.

       Nilai hidup yang ditanamkan pesantren juga terlihat dari cara mereka menekankan keikhlasan. Santri diajarkan bahwa menuntut ilmu bukan untuk mengejar gelar atau kedudukan, melainkan untuk mencari ridha Allah dan keberkahan hidup. Prinsip ini membentuk generasi yang tidak mudah silau oleh status atau materi, tetapi lebih mementingkan kebermanfaatan ilmu. Mereka mungkin tidak memiliki angka prestasi yang mencolok, tetapi mereka membawa bekal nilai hidup yang akan terus relevan hingga kapan pun.

       Di era modern, orang sering mempertanyakan apakah pesantren masih relevan. Pertanyaan ini muncul karena ada anggapan bahwa pesantren hanya mengajarkan hal-hal tradisional, sementara dunia bergerak cepat dengan teknologi dan digitalisasi. Namun, justru di tengah percepatan zaman inilah, nilai hidup yang diajarkan pesantren semakin dibutuhkan. Dunia modern membutuhkan manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral. Pesantren membekali itu semua: integritas, disiplin, kesabaran, dan rasa tanggung jawab.

       Bayangkan jika sebuah bangsa hanya diisi oleh generasi yang mengejar angka, tetapi miskin dalam nilai hidup. Kita mungkin akan memiliki banyak ahli teknologi, ekonom, atau ilmuwan, tetapi tanpa akhlak yang mulia, mereka justru bisa menjadi ancaman. Sebaliknya, ketika ilmu yang tinggi berpadu dengan akhlak yang luhur, maka lahirlah manusia yang membawa kebaikan bagi masyarakat. Pesantren dengan tradisinya telah berabad-abad menjadi penjaga nilai itu, dan hingga kini terus melahirkan sosok yang berkontribusi nyata di tengah bangsa.

       Namun, penting juga untuk menegaskan bahwa pesantren bukanlah dunia yang anti-angka. Mereka tidak menolak nilai atau penilaian, tetapi menempatkannya pada posisi yang wajar. Angka hanyalah sarana untuk mengukur sebagian aspek kemampuan, bukan penentu segalanya. Seorang santri bisa saja mendapat nilai rendah dalam ujian kitab, tetapi jika ia tekun, berakhlak, dan berkontribusi bagi sesama, ia tetap dianggap berhasil. Inilah keseimbangan yang kerap hilang dalam pendidikan formal: angka dipandang segalanya, hingga melupakan nilai hidup.

       Lebih jauh, pendidikan pesantren juga membuktikan bahwa nilai hidup dapat menjadi kekuatan transformasi sosial. Banyak alumni pesantren yang terjun ke masyarakat sebagai guru, ulama, aktivis sosial, bahkan pemimpin bangsa. Mereka tidak selalu datang dengan ijazah berlapis-lapis, tetapi hadir dengan ketulusan, integritas, dan kemampuan membaca kebutuhan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang berakar pada nilai hidup tidak hanya membentuk pribadi, tetapi juga memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.

       Refleksi ini mengingatkan kita bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak boleh hanya bertumpu pada angka-angka. Jika ingin melahirkan generasi yang tangguh, pendidikan harus memadukan kecerdasan akademik dengan nilai kehidupan. Pesantren memberi teladan bahwa hal itu bukan sekadar teori, melainkan kenyataan yang sudah berlangsung ratusan tahun. Nilai hidup yang ditanamkan sejak dini menjadikan santri mampu bertahan dalam berbagai keadaan, sekaligus tetap rendah hati dalam menjalani hidup.

       Kini, ketika dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan global, kita justru semakin perlu menengok kembali kearifan pesantren. Di tengah maraknya sistem ranking dan standar ujian internasional, pesantren mengajarkan bahwa kebahagiaan hidup tidak diukur dari angka-angka itu. Hidup adalah tentang memberi manfaat, menjaga akhlak, dan menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Pesantren mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang menumbuhkan manusia, bukan sekadar mencetak tenaga kerja.

       Pada akhirnya, angka hanyalah catatan kecil dalam perjalanan panjang hidup manusia. Ia bisa berubah, bisa naik atau turun, dan bisa dilupakan begitu saja. Tetapi nilai hidup seperti kejujuran, keikhlasan, dan rasa hormat akan terus menjadi cahaya yang menuntun langkah. Pesantren mengajarkan kepada kita bahwa selama nilai hidup terjaga, maka masa depan tetap penuh harapan, meski tanpa angka-angka gemilang di atas kertas. Refleksi inilah yang seharusnya menginspirasi dunia pendidikan kita: bahwa nilai hidup memang jauh lebih utama dari sekadar nilai angka.

editor : Fahrul Bagenda

Masuk untuk meninggalkan komentar
Spirit Anshar